Teman Sebaya Sekolah, Faisal Hanya Main Boneka

Kompas.com - 14/10/2012, 12:20 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Faisal, bocah 10 tahun yang ditolak sekolah karena tidak punya akta kelahiran, dirawat oleh neneknya sejak kecil. Sementara kedua orangtuanya hidup di Makassar sebagai pemulung barang bekas.

Ditemui di rumahnya, Dusun Batu-batu, Kelurahan Darma, Kecamatan Polewali, Polewali Mandar, Minggu (14/10), Faisal mengaku malu jika melihat teman-temannya pergi ke sekolah, sementara dirinya hanya tinggal di rumah bersama neneknya.

Meski umurnya sudah 10 tahun lebih, namun hingga kini ia belum pernah mengenyam bangku sekolah seperti teman-teman tetangganya.

"Saya main boneka atau pistol-pistolan saja kalau teman-teman pergi sekolah," ujar Faisal.

Faisal tampak gusar ketika ditanya apakah bisa mengeja huruf atau mengenal tulisan huruf dan angka-angka seperti anak-anak SD lainnya. Ia hanya menjawab dengan tetesan air mata.

Ketua Lembaga bantuan Hukum (LBH) Sulbar, Abdul Kadir menyesalkan adanya kejadian ini. Kadir berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran penting bagi pemda dan Dispora jika persyaratan adminstrasi yang sepele seperti ini, jangan sampai menghambat pendidikan anak-anak. Sebab, warga negara dijamin haknya oleh negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau